Oleh: Adhitya Madani
Kalo kamu pengen bahagia, kamu kudu nikah ama akhwat, jangan ama cewek!
Juned terpekur. Pikirannya ngelantur. Perkataan Sarif- seorang penjaga
masjid di kampung sebelah-membuat dirinya tak bisa tenang dalam perjalanan
pulang. Akhwat ? Makhluk jenis apakah itu? Di mana saya bisa menemukannya?
Kemana saya harus mencari? Sekarang puluhan pertanyaan berkelabat dalam
kepalanya.
Nama lengkapnya Junaedi Rahman Rahim. Panggilannya Juned. Dia anak seorang
juragan minyak yang kaya-raya. Seorang kumbang yang lahir pas jum'at kliwon
dan berwajah agak mirip Delon.
Sebagai seorang kumbang. Rasanya berbagai jenis wanita pernah singgah dan
bertekuk lutut pada Juned. Kapasitasnya sebagai seorang playboy cap kabel
tak perlu diragukan lagi. Julukannya pun tak main-main : Arjuned. Ada
puluhan gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Dari mulai yang putih-bersih,
item manis, blasteran, sampai yang bahenol pun pernah menjadi pacarnya.
Kecuali yang satu ini : Akhwat. Satu kata yang baru kali ini dia dengar.
Seorang perempuan yang katanya bakalan memberikan kebahagiaan baik di dunia
maupun di akherat.
'Apa gue balik lagi aja ya'? Kenapa gue gengsi buat nanya lebih jauh tentang
akhwat sama si Sarif? sekarang Juned benar-benar kebingungan. Dia lebih
mirip orang yang linglung. Menyesal. Rasanya baru tadi dia
membentak si Sarif.
Eh, jangan sok tau luh! Sampe nasehatin gue kudu nikah ama siapa.
Jangankan akhwat! Marshanda pun bisa gue dapetin. Ujar Juned berapi-api.
Padahal di dadanya tersimpan banyak kekhawatiran. Sekelabat dia teringat
kembali kata-kata ibunya yang super bawel.
Jun,pokoknya elu kudu cepet-cepet nikah! Ibu udah ga tahan denger elu
gonta-ganti cewek melulu..
Duh, cewek emang bikin susah.Batin Juned nyerocos sendiri.
Sebenarnya Juned berniat untuk cepat menikah. Usianya yang sudah dualima
tahun menjelaskan hal itu. Sebagai seorang pewaris tunggal harta bapaknya.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia: harta dan pangkat, telah dia
miliki. Cuma seorang istri yang bisa mendampingi disaat susah dan senang
saja yang belum dia miliki. Beberapa kali dia mencoba merajut kasih. Namun
dari sekian puluh cewek yang dia pacari ternyata tak satupun yang mampu
membuat dirinya bahagia. Apalagi beberapa diantara mereka hanya mengincar
hartanya saja. Sungguh menyedihkan. Hal ini membuat Juned tak pernah serius
menjalin hubungan dengan cewek manapun. Juned mencari seseorang yang tulus
mencintainya. Membuat dirinya mampu tersenyum lahir batin. Bukan karena dia
seorang pewaris harta bapaknya. Tapi karena dirinya seorang manusia.
Juuneeed juga manusia, Punya rasa punya hati.. (Mungkin lagu itu yang
sekarang sedang dinyanyikan Juned he..he).
Pagi berseri. Matahari tersenyum keki. Dengan gesit Juned berdandan sambil
melantunkan lagu dangdut kesukaannya,
Teelaaah, kutemuuukan diirimu
Suara Juned terdengar fals dengan volume yang terus meninggi sehingga
merusak pagi yang penuh harapan. Ya, harapan yang telah Juned pupuk sejak
tadi malam. Pagi ini Juned memutuskan untuk mencari seorang akhwat. Dan dia
berjanji tak kan kembali sebelum pencariannya berhasil. Semalaman Juned
berpikir. Dan dia memutuskan akan menikahi seorang akhwat. Seseorang yang
bisa membuatnya bahagia, setidaknya itulah yang diceritakan si Sarif.
Seseorang yang terkenal jujur di kampungnya.
Do'akan Juned Bu, Do'akan juned Pak. Akhirnya Juned pergi. Terlihat cucuran
air mata dari sang ibu yang sedih melepas kepergian sang buah hati. Ayahnya
yang juragan minyak sayur itu pun seperti tak rela melepas putra tercinta.
Seketika Vespa Juned yang di sisi kanannya bertuliskan Arjuned melesat
meninggalkan kedua orang tuanya yang masih termangu melihat kegigihan putra
semata wayangnya. Dari kejauhan keduanya melambaikan tangan perpisahan.
Juned, do'a kami menyertaimuuu ..
Motor Juned melesat kencang. Vespa antik berwarna kuning itu pergi jauh
meninggalkan kampung Seger Hitut yang penuh kenangan. Angin yang bertiup
kencang menemani kepergiannya. Kota. Aku akan mencari akhwat ke Kota! Ucap
juned dalam batinnya. Terlihat semangat yang membahana di kedua bola
matanya. Kecepatan motor vespanya terus bertambah.
Kotaaaa! I'm Coming.
Iya lah ke kota! Masa sih cari akhwat ke gunung! Tul ga ? Yuu..
cciiiiittttt
Vespa Juned akhirnya berhenti di sebuah pasar di dekat kota. Mata Juned
langsung celingak-celinguk. Wajahnya keringetan. Mulutnya terbuka
hah-heh-hoh. Diambilnya sebuah parfum merk pusara di tas birunya.
Srooott... Srooot
Satu dua kali disemprotkan parfum beraroma melati campur kemenyan itu ke
tubuhnya. Konon, parfum itu adalah peninggalan buyutnya Juned dan sudah
turun temurun menjadi senjata pamungkas dalam menggaet perempuan. Cuma,
parfum itu belum pernah dicoba untuk menggaet seorang akhwat. Jadi ini
adalah pengalaman dan uji coba pertama. Juned lalu membuka sebuah kertas
pemberian seorang ustadz di kampungnya.
Ciri pertama pakaiannya tertutup, ciri kedua rajin ibadah, ciriketiga
matanya ga celilitan, ciri keempat mulutnya ga celamitan, ciri kelima-enam-
tujuh.. Juned membaca satu persatu isi kertas itu. Pikiran Juned kembali
ngelantur. Matanya menatap angkasa. Otaknya mulai berpikir. Menembus
batas-batas kehidupan yang tak pernah bisa dia mengerti.
Di kampungnya, para remaja telah kerasukan budaya barat. Kehilangan
identitas. Termasuk para gadis yang dulu polos kini banyak berubah. Mereka
berpakaian tetapi telanjang. Inilah dampak lain yang terjadi gara-gara
program 'internet masuk desa'. Cara hidup orang barat yang super 'free'
diserap begitu saja oleh para pemuda-pemudi kampung. Juga oleh remaja-remaji
di kampung
Juned. Kampung yang dulu terkenal sebagai kampung santri. Kini berubah jadi
kampung 'peragawati' . Peragawati kesasar. Ya..ya..ya itulah nasib
kampungnya Juned. Kampung Seger hitut.
Para pembaca yang budiman! Dalam sepuluh tahun ini kehidupan menjadisangat
berbeda. Cara berpikir dan bersikap ala kebarat-baratan telah menjadi virus
mengasyikan bagi para generasi muda. Sosok seorang akhwat pun saat ini
sangat sulit untuk ditemui. Yang ada hanyalah tampilan cewek-cewek berdandan
ala Britney Spears. Dengan pakaian yang super minim. Dan centilnya itu lho!
jadi gimana gitu!
Dan Juned sangat percaya akan sosok akhwat yang masih misterius. Walaupun
Juned ga tau sama sekali seperti apa sosok seorang akhwat. Namun dia yakin
bahwa seorang akhwat adalah seorang cewek yang soleh. Perhiasan dunia yang
paling indah.
Kata Pa ustadz, ketika awal tahun 2000, masih banyak jumlah akhwat di
Indonesia. Tapi Juned yakin, walau stocknya terbatas, yang namanya akhwat
itu pasti tetap ada.
Pokoknya, gue kudu nikah ama seorang akhwat! Ujar Juned dalam batinnya. Ok,
sekarang kita kembali kepencarian. Juned kembali konsentrasi. Matanya
kembali mengintai. Setiap orang diperhatikannya. Tapi di sana dia hanya
melihat ibu-ibu yang berpakaian ketat. Juned lalu melanjutkan perjalanan ke
kota. Di pinggir jalan dia melihat banyak masjid. Namun tak terdapat
kehidupan di sana. Masjid butut tak terurus, sama seperti di kampungnya.
Akhirnya Juned sampai di sebuah tempat bertuliskan Modern Super Mall.
Wow, fantastik. Ujar Juned dengan lidah yang hampir saja keluar. Baru kali
ini dia datang ke kota, dan baru kali ini dia melihat pemandangan seperti
ini.
Busyeetttt!! Itu baju apa daun pisang ? Tipis banget gitu lho!!! Jelas
banget gitu lho
Mata Juned terbelakak melihat gadis-gadis kota yang berpakaian super sexy.
Seketika dia menghela nafas 'Emang bener jaman mau kiamat Ujarnya pelan
sambil mengusap-ngusap dada.
Juned meneruskan perjalanan. Vespa antiknya kembali berlari. Dikunjunginya
setiap tempat di kota, tetapi sosok seorang akhwat tak jua dia temukan. Tak
kurang seribu tanya telah dia lemparkan pada setiap orang yang ditemuinya.
Namun tak ada yang tahu di mana akhwat berada. Juned hampIr saja frustasi.
Pikirannya kembali ke sana-ke mari.
Gue kudu cari masjid, ya, cari masjid. Seketika Juned teringat masjid,
sebuah tempat yang paling jarang dia singgahi. Akhirnya Juned sampai di
sebuah masjid yang besar. Masjid itu terlihat lusuh tak terurus. Diambilnya
air wudhu walau sebenarnya dia merasa jijik dengan air yang bau dan berwarna
agak ke kuning-kuningan. Benar-benar ga keurus!
Sekarang dirinya siap melaksanakan shalat ashar. Batinnya mencoba untuk
khusyu. Ketenangan sekejap menyelimutinya. Tubuhnya yang panas penuh
keringat berubah menjadi sejuk karena hembusan angin sepoi yang menentramkan
hatinya.
Ya, Allah, ampunkan salah hamba selama ini. Ampunkan kelalaian hamba selama
ini. Jangan engkau masukan hamba ke dalam neraka yang ngerinya minta ampun.
Matahari yang jauh aja udah panas, apalagi neraka.
Ya, Allah, hamba sekarang sedang mencari seorang akhwat. Perempuan yang
katanya mencintai engkau dan engkaupun mencintainya. Perempuan yang katanya
bisa membawa hamba pada kebenaran.Tapi, ternyata mencari akhwat itu sulit
banget yaaa! Tunjukan jalan-Mu Ya Allah. Biar Juned bisa nikah ama Akhwat.
Ya, Allah! pliss Bantu Juned Juned berdo'a dengan khusyu dan penuh
pengharapan. Sehabis shalat Juned terpekur duduk di teras masjid. Matahari
bergerak cepat kearah barat.
Sebentar lagi senja tiba. Dan Juned masih belum menemukan sosok akhwat yang
dicarinya.
De, kok melamun sih ? ga baik lho kalau anak muda melamun. Juned yang sedang
ngelamun terperanjat mendengar sahutan seorang kakek berjanggut putih yang
seketika ada di hadapannya.
Iya,nih, saya lagi bingung..
Bingung kenapa.? Tanya kakek itu lagi.
Begini, Kek saya ingin menikah. Ujar Juned. Mantap.
Menikah mah gampang atuh De, duh si Ade mah, pikir atuh De piikirrrr!!!
Si kakek berjanggut langsung nyerocos sewot. Membuat Juned keheranan. Ni,
aki-aki peot, kok jadi sewot sih!
Eh, bukannya saya ga berpikir ! emang seeh menikah jaman sekarang itu mudah.
Jangankan satu istri, 4 biji pun saya mampu! Cuma saya pengen nikahnya ama
akhwat. Bapak tau ga di mana saya bisa menemukan seorang akhwat ?
Si kakek terlihat berpikir. Keriput di wajahnya makin terlihat mengerut.
Gampang, De, Jangankan seorang, kesebelasan akhwat pun kakek tau.
Wah, yang bener Kek, di mana Kek ? Juned terlihat super antusias. Matanya
berbinar. Sepengetahuan Kakek, yang namanya akhwat itu bisa ditemukan di
daerah Ngalong. Sebenarnya di daerah lain juga masih ada sih.... tapi yang
Kakek tau sih di sana.
Juned langsung terperanjat girang. Thanks ya Kek.
Setelah bertanya alamat lengkap. Juned langsung menggeber vespa antiknya
menuju daerah Ngalong. Sebuah daerah pinggiran kota. Tempat yang katanya
masih steril dan sehat.
Akulah Arjuneeeeed Yang mencari akhwaaat
Wahai para akhwat Cintailah aakuuuu.
Juned mengemudi sambil menyanyi kayak orang kesurupan. Kecepatan motornya
bikin orang-orang di pinggir jalan pada keder. Siapa dulu donk, Arjuned gitu
lho.
Akhirnya Juned sampai. Setelah turun dari motor mata Juned langsung
terbelakak. Takjub. Kagum. Nafasnya naik turun ga karuan. Matanya seolah tak
mau berkedip. Hebat euy
Inikah yang namanya akhwat ? Wow, kereeennn.
Ucap Juned dalam batinnya ketika melihat sekelompok perempuan berjilbab yang
sedang keluar masuk masjid. Bener-bener cocok dengan yang diceritakan Pak
Ustadz.
Ya, ga salah lagi ini pasti yang namanya akhwat! Yesss!!!berhasil .
Juned berkata kegirangan. Dia merasa heran dengan suasana disini. Berbeda
dengan daerah lainnya. Di daerah Ngalong yang namanya masjid itu rame
banget.
Gimana cara ngedeketin akhwat ? Apa gue langsung tembak aja? Ato langsung
diajak nikah kali ya ? pertanyaan-pertanya an itu sekarang mulai
berseliweran dalam kepala Juned. Pikiran Juned mulai ngelantur lagi. Hatinya
berbunga-bunga dan penuh harapan.
Ah, mendingan gue tanya aja ama orang itu ? Ujarnya ketika melihat seorang
pemuda yang memakai peci kordofi dan berjanggut tipis.
Maaf Mas sapa Juned.
Eh, iya, ada apa ?
Wanita-wanita itu akhwat kan ? si pemuda terlihat keheranan dengan
pertanyaan konyol Arjuned.
I..iya akhwat, emangnya kenapa ?
Ga kenapa-napa pengen nanya aja!
O Cuma nanya tooo.
Juned terlihat malu-malu. Namun akhirnya dia to the point juga.
Eh, mas, kalo mau nikah sama akhwat caranya gimana.? Tanya Juned sambil
petantang-petenteng . Pemuda itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Juned.
Agak kaget. Setelah itu dia terlihat berpikir. Ditatapnya
Juned dari atas sampe bawah.
Kaos oblong berwarna item, dipadu jaket kulit yang udah kucel, plus jelana
jeans yang udah bolong-bolong. Fuihhhh makhluk ajaib dari mana nich.? Batin
pemuda itu nyerocos. Ditatapnya kembali wajah Juned yang
terlihat udah ga sabar.
Emang beener, mas mas...
Nama saya Arjuned.
Oiya, emang bener mas Arjuned mau nikah sama akhwat ? Tanya pemuda itu.
Terlihat ragu.
Yoi donk, kalo ngga buat apa saya berkorban capek-capek kemari. Pengorbanan
saya buat sampe di tempat ini berat lho! Gimana, bisa kan?
Sang pemuda kembali terdiam. Wajah putih bersihnya terasa menyejukan di mata
Juned. Kemudian dia memandang Juned. Tersenyum tipis.
Oh, gampang, akhwat itu nikahnya sama ikhwan. Kalo Mas Arjuned ikhwan atau
bukan.?
Juned terdiam. Otaknya langsung macet. Jawaban pemuda berjanggut langsung
membuat mulutnya terkunci. Ditatapnya mentari dalam lembayung senja yang
mulai memerah. Angin berhembus mengibas rambutnya yang acak-acakan. Kemudian
dia kembali menatap pemuda yang berdiri tegap dihadapannya.
Tatapannya tatapan memelas. Bingung. Sekarang hanya ada satu pertanyaan yang
keluar dari mulutnya.
Maaf, Mas ikhwan itu siapa.???
Pendar Cahaya Kosan,
Persembahan untuk para wanita shalihah : perhiasan dunia, calon bidadari
surga.
Keep Istiqomah!!